Sabtu, 03 Mei 2014

Syarat-Syarat Objektif untuk Sebuah Revolusi Sosialis

Situasi politik dunia dalam keseluruhannya digambarkan oleh sebuah krisis historis kepemimpinan proletariat.
Syarat ekonomi untuk revolusi proletar sudah secara umum mencapai tingkatan tertinggi yang mampu dicapai di bawah kapitalisme. Kekuatan-kekuatan produksi umat manusia tidak bertambah maju. Penemuan-penemuan dan perkembangan-perkembangan baru sudah tidak mampu meningkatkan kesejahteraan material. Krisis-krisis yang saling bertautan di bawah kondisi krisis sosial dari seluruh sistem kapitalis mengakibatkan kelaparan dan kesengsaraan yang semakin parah di dalam masyarakat. Tingkat pengangguran yang makin membengkak, pada gilirannya, memperdalam krisis finansial negara dan melemahkan sistem keuangan yang sudah tidak stabil. Rejim-rejim demokratik, dan juga rejim-rejim fasis, terhuyung-huyung dari satu kebangkrutan ke kebangkrutan yang lain.
Kaum borjuis sendiri melihat sudah tidak ada jalan keluar lagi. Di negeri-negeri dimana mereka telah terpaksa membuat pengorbanan terakhir dengan menggunakan fasisme, mereka sekarang meluncur dengan mata tertutup menuju bencana ekonomi dan militer. Di negeri-negeri yang lebih maju di dalam sejarah, yakni negeri-negeri dimana kaum borjuisnya masih mampu untuk sementara mengijinkan demokrasi dengan mengorbankan akumulasi-akumulasi nasional (Inggris, Prancis, Amerika, dll), semua partai-partai kapitalis tradisional berada di dalam kondisi kebingungan yang hampir lumpuh semangat.
Proyek “New Deal” [1], walaupun di dalam periode keteguhan awalnya yang palsu, merepresentasikan semacam kebingungan politik dan hanya mungkin diterapkan di sebuah negara di mana kaum borjuisnya telah berhasil mengumpulkan kekayaan yang tak terkira besarnya. Krisis sekarang ini yang masih jauh dari penyelesaiannya sudah berhasil menunjukkan bahwa politik “New Deal” ini, seperti halnya politik Front Popular [2] di Prancis, tidak mampu membuka jalan keluar dari kebuntuan ekonomi ini.
Hubungan-hubungan internasional tidak memberikan gambaran yang lebih baik. Di bawah tekanan disintegrasi kapitalisme yang semakin menguat, antagonisme-antagonisme imperialis menemui jalan buntu dimana perselisihan-perselisihan yang terpisah dan kekacauan-kekacauan lokal yang berdarah-darah (Etiopia, Spanyol, Asia Timur, Eropa Tengah) secara tidak terelakkan akan bergabung menjadi sebuah kekacauan dalam dimensi yang mendunia. Kaum borjuis tentu saja sadar akan bahaya sebuah perang yang baru terhadap dominasinya. Tetapi kelas tersebut semakin lemah dalam kemampuannya untuk menghindari perang dibandingkan pada awal tahun 1914.
Semua argumen bahwa kondisi sejarah belumlah “matang” untuk sosialisme adalah produk dari kebodohan atau penipuan yang dilakukan secara sadar. Syarat-syarat objektif untuk revolusi proletariat bukan hanya sudah “matang”, mereka sudah mulai membusuk. Tanpa sebuah revolusi sosialis di dalam periode sejarah selanjutnya, sebuah bencana akan mengancam seluruh peradaban umat manusia. Sekarang semua tergantung pada kelas proletariat, terutama kaum pelopor revolusioner kelas tersebut. Krisis sejarah umat manusia tereduksi ke krisis kepemimpinan revolusioner. 
Sumber:  http://www.marxists.org/indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar