Sabtu, 03 Mei 2014

Pemerintahan Buruh dan Tani

Formula ini, yakni “pemerintahan buruh dan tani”, pertama kali muncul di dalam agitasi Bolshevik pada tahun 1917 dan diterima setelah Revolusi Oktober. Pada akhirnya, ini adalah sebutan populer bagi kediktaturan proletariat yang sudah terbentuk. Arti penting dari sebutan ini datang secara terutama dari kenyataan bahwa ia menggarisbawahi sebuah aliansi antara kaum proletar dan tani yang merupakan basis kekuatan Soviet.
Ketika para pemalsu sejarah dari Komintern mencoba menghidupkan kembali formula “kediktaturan demokratis kaum proletar dan tani” yang sudah terkubur oleh sejarah, mereka memberikan formula “pemerintahan buruh dan tani” sebuah karakter yang benar-benar berbeda, yang benar-benar bersifat “demokratis”, dalam kata lain sebuah karakter yang bersifat borjuis; ini bertolak belakang dengan kediktaturan proletariat. Kaum Bolshevik-Leninis secara tegas menolak slogan “pemerintahan buruh dan tani” versi demokrasi-borjuis. Kaum Bolshevik-Leninis selalu menekankan bahwa: bila partai kaum proletar menolak untuk melangkahi batas-batas demokrasi borjuis, maka aliansinya dengan kaum tani akan menjadi dukungan terhadap kaum kapitalis, seperti yang dilakukan oleh kaum Menshevik dan Sosial-Revolusioner pada tahun 1917, seperti halnya dengan Partai Komunis Tiongkok pada tahun 1925-27, dan seperti halnya dengan “Front Rakyat” di Spanyol, Prancis, dan negara-negara lainnya.
Dari bulan April sampai September 1917, kaum Bolshevik menuntut kaum Menshevik dan SR untuk pecah dari kaum borjuis liberal dan mengambil kekuasaan ke dalam tangan mereka sendiri. Di bawah ketentuan tersebut, Partai Bolshevik menjanjikan kepada Menshevik dan SR, yang merupakan perwakilan borjuis kecil dari kaum buruh dan tani, bahwa mereka akan memberikan bantuan revolusioner dalam melawan kaum borjuis. Pada saat yang sama, Partai Bolshevik secara tegas menolak masuk pemerintahan Menshevik dan SR dan menolak untuk bertanggungjawab secara politis atas pemerintahan tersebut. Bila Partai Menshevik dan SR memecahkan diri dari Partai Cadets (kaum liberal) dan imperialisme asing, maka “pemerintahan buruh dan tani” yang mereka bentuk akan segera mempercepat dan memfasilitasi pembentukan kediktaturan proletariat. Dan inilah sebenarnya mengapa kepemimpinan kaum demokrat borjuis kecil menolak dengan segala kekuatannya untuk membentuk pemerintahannya sendiri. Pengalaman Rusia menunjukkan, dan pengalamanan di Spanyol dan Prancis sekali lagi mengkonfirmasikan, bahwa bahkan di dalam kondisi yang sangat mendukung, partai-partai demokrasi borjuis kecil (SR, Sosial Demokrat, Stalinis, Anarkis) tidak mampu membentuk sebuah pemerintahan buruh dan tani, yakni sebuah pemerintahan yang independen dari kaum borjuis.
Walaupun begitu, tuntutan kaum Bolshevik yang ditujukan kepada Menshevik dan SR: “Pecah dari kaum borjuis, ambil kekuasaan ke dalam tanganmu sendiri!” mempunyai nilai pendidikan yang besar bagi rakyat. Ketidakinginan untuk mengambil kekuasaan, yang terekspos secara dramatis selama Hari-Hari Juli [12], membuat reputasi Menshevik dan SR hancur di mata rakyat dan mempersiapkan kemenangan Bolshevik.
Tugas utama dari Internasional Keempat adalah membebaskan kaum proletar dari kepemimpinan mereka yang lama, yang sifat konservatifnya tidak sejalan dengan ledakan-ledakan bencana kapitalisme yang sedang hancur dan merupakan halangan utama arus sejarah. Kritik utama yang dikedepankan oleh Internasional Keempat terhadap organisasi-organisasi tradisional kaum proletar adalah kenyataan bahwa mereka tidak ingin pecah dari politik kaum borjuis yang sudah setengah-mati. Di dalam situasi ini, tuntutan yang secara sistematis ditujukan kepada kepemimpinan lama ini adalah: “Pecah dari kaum borjuis, rebut kekuasaan!”; tuntutan ini adalah senjata yang teramat penting untuk mengekspos karakter pengkhianat dari partai-partai dan organisasi-organisasi Internasional Kedua, Ketiga dan Internasional Amsterdam [13]. Maka dari itu, slogan “pemerintahan buruh dan tani” dapat kami terima hanya di dalam kondisi seperti pada tahun 1917 dengan Partai Bolshevik, yakni sebagai slogan anti-borjuis dan anti-kapitalis. Tetapi bukan dengan karakter “demokratis” yang kemudian diberikan oleh para pemalsu sejarah tersebut, yang mengubah slogan tersebut dari jembatan menuju revolusi Sosialis menjadi penghalang utama revolusi Sosialis.
Dari semua partai dan organisasi yang mendasarkan diri mereka pada kaum buruh dan tani dan mewakili mereka, kami menuntut mereka untuk pecah secara politik dari kaum borjuis dan memasuki jalan perjuangan untuk membentuk pemerintahan buruh dan tani. Di dalam perjuangan ini, kami menjanjikan mereka dukungan penuh dalam melawan reaksi kapitalis. Pada saat yang sama, tanpa mengenal lelah kami akan mengembangkan agitasi seputar tuntutan-tuntutan transisional, yang menurut kami harus membentuk program-program dari “pemerintahan buruh dan tani” tersebut.
Apakah pembentukan pemerintahan buruh dan tani oleh organisasi-organisasi tradisional para buruh adalah satu hal yang mungkin? Seperti yang sudah kami paparkan sebelumnya, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa ini kemungkinannya kecil sekali. Akan tetapi, kita tidak bisa secara pasti menyangkal kemungkinan teoretikal bahwa di bawah pengaruh kondisi-kondisi yang benar-benar unik (peperangan, kekalahan perang, krisis ekonomi, tekanan massa revolusioner, dsb), partai-partai borjuis kecil, termasuk partai-partai Stalinis, bisa bertindak lebih jauh dari apa yang mereka inginkan dalam memecahkan diri dengan kaum borjuis. Dalam segala hal, satu hal yang tidak boleh diragukan: bahkan jika hal yang sangat kecil kemungkinannya ini menjadi realitas dan “pemerintahan buruh dan tani” terbentuk, pemerintahan tersebut hanya akan menjadi sebuah episode pendek dalam perjalanan menuju kediktaturan proletariat yang sesungguhnya.
Akan tetapi, kita tidak perlu bermain tebak-tebakan. Agitasi seputar slogan pemerintahan buruh dan tani dalam segala situasi memiliki sebuah nilai pendidikan yang sangat besar. Dan ini bukanlah suatu kebetulan. Slogan umum ini sejalan dengan perkembangan politik masa sekarang ini (kebangkrutan dan kehancuran partai-partai borjuis yang lama, jatuhnya demokrasi, tumbuhnya fasisme, dorongan yang semakin cepat dari kaum buruh menuju politik yang lebih aktif dan agresif). Oleh karena itu, setiap tuntutan transisional harus menuju ke satu kesimpulan yang sama: kaum buruh harus memisahkan diri dari partai-partai tradisional kaum borjuis guna membangun kekuatan mereka sendiri, bersama-sama dengan petani.
Adalah suatu hal yang mustahil untuk bisa meramalkan apa yang akan menjadi tahap-tahap konkrit dari mobilisasi massa revolusioner. Setiap kali memasuki tahapan yang baru, seksi-seksi Internasional Keempat harus secara kritis mengorientasikan diri mereka dan mengedepankan slogan-slogan yang akan membantu buruh yang sedang berjuang untuk meraih politik yang independen, memperkuat hubungan kaum pelopor dengan rakyat, dan mempersiapkan penaklukkan kekuasaan revolusioner.
Sumber:  http://www.marxists.org/indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar