Sabtu, 03 Mei 2014

Aliansi Kaum Buruh dan Tani

Kaum pekerja pertanian adalah saudara perjuangan dan rekan kaum pekerja di pedesaan. Mereka adalah dua bagian dari satu kesatuan kelas yang sama. Kepentingan mereka tidak dapat dipisahkan. Tuntutan transisional kaum pekerja industrial, dengan sedikit perubahan disana dan disini, adalah juga program transisional kaum proletar pertanian.
Kaum tani merepresentasikan kelas yang berbeda: mereka adalah kaum borjuis kecil pedesaan. Kaum borjuis kecil terdiri dari lapisan yang berbeda-beda, dari lapisan semi-proletar sampai ke elemen-elemen yang mengeksploitasi. Berdasarkan pengamatan ini, tugas politik dari kaum proletar industrial adalah untuk membawa perjuangan kelas ke pedesaan. Hanya dengan demikian ia akan mampu menarik garis pemisah antara sekutunya dan musuhnya.
Keunikan dari perkembangan di tiap-tiap negara mengekspresikan dirinya secara unik di dalam status petani dan kaum borjuis kecil kota (pengrajin dan pemilik toko kelontong) yang ada di negara tersebut. Kelas-kelas ini, walaupun jumlahnya banyak, sebenarnya adalah perwakilan kelas dari sistem produksi pra-kapitalisme yang masih hidup. Seksi-seksi dari Internasional Keempat harus memformulasikan sebuah program tuntutan transisional yang menyangkut petani dan kaum borjuis kecil urban, yang bersifat konkrit dan sesuai dengan kondisi di tiap-tiap negara. Kaum pekerja yang termaju harus mempelajari bagaimana memberikan solusi yang jelas dan konkrit terhadap masalah-masalah yang disodorkan oleh kaum tani dan borjuis kecil yang kelak akan menjadi sekutunya.
Walaupun petani tetap akan menjadi produsen kecil yang “independen”, dia membutuhkan kredit murah, mesin-mesin pertanian dan pupuk dengan harga yang terjangkau, kondisi transportasi yang baik, dan kondisi pasar yang adil untuk hasil pertaniannya. Tetapi bank-bank, perusahaan-perusahaan kongsi, dan para pedagang merampok kaum tani dari segala sisi. Hanya kaum tani sendiri dengan bantuan kaum buruh dapat menghentikan perampokan ini. Komite-Komite yang dipilih oleh para petani kecil harus dibentuk secara nasional dan bersama-sama dengan komite-komite pekerja dan komite-komite pegawai bank mengambil alih kendali transportasi, kredit, dan operasi perdagangan yang berkaitan dengan pertanian.
Dengan memutarbalikkan fakta mengenai tuntutan-tuntutan buruh “yang berlebihan”, kaum borjuis besar dengan pandai mengubah isu harga barang menjadi pemisah yang memecah persatuan antara kaum buruh dan tani, dan antara kaum buruh dan kaum borjuis kecil perkotaan. Para petani, pengrajin, pedagang kecil, tidak dapat menuntut kenaikan gaji ketika harga-harga barang naik. Mereka tidak seperti kaum buruh industri, pegawai kantor dan pegawai negeri, yang bisa menuntut kenaikan gaji. Pergelutan negara dalam menghadapi harga-harga barang yang tinggi hanyalah sebuah muslihat untuk menipu rakyat. Tetapi, para petani, pengrajin, dan pedagang kecil, dalam kapasitasnya sebagai konsumen, dapat mengintervensi politik pengaturan-harga-barang bersama-sama dengan kaum pekerja. Menghadapi keluhan-keluhan kaum kapitalis akan ongkos produksi, ongkos transportasi dan perdagangan, para konsumen menjawab: “Tunjukkan pembukuan anda; kami menuntut kendali atas kontrol harga-harga barang.” Organ-organ untuk fungsi pengontrolan harga barang ini adalah komite-komite pengontrol harga barang, yang beranggotakan delegasi-delegasi dari pabrik-pabrik, serikat buruh, koperasi, organisasi-organisasi petani, “pedagang kecil” dari perkotaan, ibu rumah tangga, dsb. Dengan cara seperti ini, kaum pekerja dapat membuktikan kepada para petani bahwa alasan sesungguhnya mengapa harga-harga barang membumbung tinggi adalah bukan karena upah yang tinggi, tetapi karena laba besar kaum kapitalis dan ongkos dari anarki kapitalisme.
Program nasionalisasi tanah dan kolektivisasi pertanian tidak boleh dipaksakan kepada petani-petani kecil. Para petani akan tetap menjadi pemilik tanahnya selama dia masih percaya bahwa hal tersebut mungkin atau diperlukan. Untuk merehabilitisasi program sosialisme di mata petani, adalah perlu untuk mengekspos metode kolektivisasi Stalinis, yang bukan didikte oleh kepentingan para petani atau pekerja, tetapi oleh kepentingan kaum birokrat.
Penyitaan hak-milik kaum borjuis besar tidak berarti pemaksaan penyitaan properti para pengrajin dan pedagang kecil. Justru sebaliknya, pengendalian bank-bank dan perusahaan-perusahaan kongsi oleh kaum buruh – terlebih lagi, nasionalisasi mereka – dapat menciptakan kondisi yang jauh lebih baik bagi kaum borjuis kecil perkotaan untuk memperoleh kredit dan berdagang; jauh lebih baik dibandingkan di bawah dominasi monopoli yang tidak terkendali. Ketergantungan kepada kapital swasta akan digantikan oleh ketergantungan kepada negara, yang akan memberikan lebih banyak perhatian terhadap kebutuhan-kebutuhan sekutu-sekutunya bilamana rakyat pekerja mengendalikan negara tersebut di tangan mereka sendiri.
Partisipasi praktis dari para petani yang tertindas di dalam pengendalian berbagai macam aspek-aspek ekonomi akan memberikan mereka kesempatan untuk memutuskan untuk diri mereka sendiri: apakah akan menguntungkan bagi mereka untuk pindah ke sistem kolektivisasi pertanian – kapan dan dalam skala apa. Kaum buruh industri harus melihat diri mereka sebagai pihak yang berkewajiban untuk bekerja sama di dalam setiap kesempatan dengan para petani dalam perjalanan mereka menuju kolektivisasi; melalui serikat-serikat buruh, komite-komite pabrik, dan yang terutama, melalui pemerintahan buruh dan tani.
Aliansi yang dikedepankan oleh kaum proletar – bukan kepada "kelas menengah" secara umum tetapi kepada lapisan-lapisan borjuis kecil pedesaan dan perkotaan yang tereksploitasi, dalam melawan semua kaum penghisap termasuk mereka-mereka yang dari “kelas menengah” – harus berdasarkan persetujuan sukarela, bukan paksaan; dan aliansi ini harus dikonsolidasikan di dalam sebuah “kontrak” yang khusus. “Kontrak” ini adalah program tuntutan transisional yang diterima secara sukarela oleh kedua belah pihak.
Sumber:  http://www.marxists.org/indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar