Sabtu, 03 Mei 2014

Dialektika

oleh Friedrich Engels

(Mengembangkan sifat umum dialektika sebagai ilmu-pengetahuan mengenai antarketerkaitan-antarketerkaitan (inter-connections), berlawanan dengan metafisika.)

Maka itu, hukum-hukum dialektika diabstraksikan dari sejarah alam dan masyarakat manusia. Karena hukum-hukum itu tidak lain yalah hukum-hukum yang paling umum dari kedua aspek perkembangan historikal, maupun dari pikiran itu sendiri. Dan, sebenarnyalah, hukum-hukum itu pada dasarnya dapat dipulangkan pada tiga buah hukum:
Hukum perubahan (transformasi) kuantitas menjadi kualitas dan vice versa;
Hukum penafsiran mengenai yang berlawanan (opposites);
Hukum negasi dari negasi.
Ketiga-tiganya dikembangkan oleh Hegel dalam gaya idealisnya sebagai sekedar hukum-hukum pikiran: yang pertama, dalam bagian pertama karyanya Logic, dalam Doktrin mengenai Keberadaan (Being); yang kedua mengisi seluruh bagian kedua dan bagian yang paling penting dari Logic, Doktrin mengenai Hakekat (Essence); akhirnya, yang ketiga merupakan hukum fundamental bagi rancang- bangun seluruh sistem itu. Kesalahannya terletak pada kenyataan bahwa hukum-hukum ini disisipkan pada alam dan sejarah sebagai hukum-hukum pikiran, dan tidak dideduksi dari situ. Inilah sumber dari seluruh pendekatan yang dipaksakan dan seringkali melampaui batas (keterlaluan); semesta-alam, mau-tidak-mau, mesti bersesuaian dengan sebuah sistem pikiran yang sendiri cuma produk dari suatu tahap tertentu dari evolusi pikiran manusia. Jika kita membalikkan semuanya itu, maka segala sesuatu menjadi sederhana, dan hukum-hukum dialektika yang tampak begitu luar-biasa misterius dalam filsafat idealis seketika menjadi sederhana dan jelas seperti siang-hari bolong.
Lagi pula, setiap orang, bahkan yang sedikit saja mengenal Hegel, akan menyadari bahwa dalam beratus pasase Hegel berkemampuan memberikan gambaran-gambaran individual yang paling jelas mengenai hukum-hukum dialektika dari alam dan sejarah.
Di sini kita tidak bermaksud menulis sebuah buku pedoman mengenai dialektika, melainkan hanya untuk menunjukkan bahwa hukum-hukum dialektika itu adalah hukum-hukum nyata mengenai perkembangan alam, dan karenanya berlaku juga bagi ilmu-pengetahuan alam teoretikal. Karenanya kita tidak dapat memasuki bagian dalam antar-keterkaitan hukum-hukum ini satu sama yang lainnya.
1. Hukum perubahan dari kuantitas menjadi kualitas dan vice versa. Untuk maksud kita, dapat kita ungkapkan ini dengan mengatakan bahwa dalam alam, dengan suatu cara yang secara tepat ditetapkan untuk setiap kasus individual, perubahan-perubahan kualitatif hanya dapat terjadi oleh penambahan kuantitatif atau pengurangan kuantitatif dari materi atau gerak (yang dinamakan energi).
Semua perbedaan kualitatif dalam alam berlandaskan pada perbedaan-perbedaan komposisi (susunan) kimiawi atau pada kuantitas- kuantitas atau bentuk-bentuk gerak (energi) yang berbeda-beda atau, sebagaimana hampir selalu halnya, pada kedua-duanya. Maka itu tidaklah mungkin mengubah kualitas sesuatu tanpa pertambahan atau pengurangan materi atau gerak, yaitu, tanpa perubahan sesuatu yang bersangkutan itu secara kuantitatif. Dalam bentuk ini, karenanya, azas misterius dari Hegel itu tampak tidak hanya sangat rasional, melainkan bahkan jelas sekali.
Nyaris tidak perlu dinyatakan lagi, bahwa berbagai keadaan benda-benda secara allotropik (allotropy=variasi sifat-sifat fisikal tanpa perubahan substansi) dan agregasional (terkumpul jadi satu), karena mereka bergantung pada berbagai pengelompokan molekul-molekul, bergantung pada jumlah-jumlah yang lebih banyak atau lebih sedikit dari gerak yang dikomunikasikan pada benda-benda itu.
Tetapi, bagaimana tentang perubahan bentuk atau gerak, atau yang disebut energi? Apabila kita mengubah panas menjadi gerak mekanikal atau vice versa, tidakkah kualitas diubah sedangkan kuantitasnya tetap sama? Benar sekali. Tetapi dengan perubahan bentuk atau gerak itu adalah seperti dengan kejahatan-kejahatan Heine; setiap orang jika sendirian bisa saja saleh, luhur-berbudi, karena untuk kejahatan-kejahatan selalu diperlukan dua orang. Perubahan bentuk atau gerak selalu merupakan suatu proses yang terjadi di antara sedikitnya dua benda, yang satu kehilangan sejumlah tertentu gerak dari suatu kualitas (misalnya, panas), sedangkan yang satu lagi memperoleh kuantitas gerak dari kualitas lain yang bersesuaian (gerak mekanikal, listrik, dekomposisi kimiawi). Di sini, karenanya, kuantitas dan kualitas saling bersesuaian satu sama lain. Sejauh ini belum ditemukan kemungkinan untuk mengubah suatu bentuk gerak menjadi satu bentuk gerak yang lain dalam sebuah benda tunggal yang terisolasi.
Di sini yang pertama-tama kita permasalahkan yalah benda-benda tidak-hidup (benda mati); hukum yang sama berlaku bagi benda-benda hidup, tetapi ia beropperasi dalam kondisi-kondisi yang sangat kompleks dan pada waktu sekarang pengukuran kuantitatif acapkali masih belum mungkin bagi kita.
Jika kita membayangkan sesuatu benda mati terpotong menjadi potongan-potongan lebih kecil dan lebih kecil lagi, mula-mula tidak terjadi perubahan kualitatif. Namun ini ada batasnya: jika kita berhasil, seperti dengan penguapan (evaporasi), dalam memperoleh molekul-molekul terpisah itu dalam keadaan bebas, maka benarlah bahwa kita lazimnya dapat membaginya lebih lanjut, namun hanya dengan suatu perubahan kualitas secara menyeluruh. Molekul itu didekomposisi ke dalam atom-atomnya yang terpisah-pisah, yang mempunyai sifat-sifat yang sangat berbeda dengan sifat-sifat molekul itu. Dalam hal molekul-molekul itu terdiri atas berbagai unsur kimiawi, atom-atom atau molekul-molekul unsur-unsur itu sendiri muncul sebagai gantinya molekul persenyawaan itu; dalam hal molekul-molekul unsur-unsur, tampillah/muncullah atom-atom bebas yang menimbulkan akibat-akibat/efek-efek kualitatif yang sangat berbeda-beda; atom-atom bebas dari oksigen yang lahir secara mudah dapat menghasilkan yang tidak pernah dapat dicapai oleh atom-atom dari oksigen atmosferik, yang terikat menjadi satu di dalam molekul itu.
Tetapi, molekul itu secara kualitatif juga berbeda dari massa benda yang padanya molekul itu termasuk. Ia dapat melakukan gerakan-gerakan secara bebas dari massa itu dan selagi yang tersebut belakangan itu tampak lembam, yaitu misalnya, vibrasi- vibrasi panas; melalui suatu perubahan posisi dan keterkaitan dengan molekul-molekul di sekitarnya ia dapat mengubah benda itu menjadi suatu allotrope atau suatu keadaan agregasi yang berbeda.
Dengan demikian kita melihat bahwa operasi pembagian yang semurninya kuantitatif itu mempunyai suat batas di mana ia menjadi terubah menjadi suatu perbedaan kualitatif: massa itu terdiri semata-mata atas molekul-molekul, tetapi ia sesuatu yang pada pokoknya berbeda dari molekul itu, tepat sebagaimana yang tersebut belakangan berbeda dari atom. Perbedaan inilah merupakan dasar bagi pemisahan mekanika, sebagai ilmu dari massa-massa ruang angkasa dan bumi, dari ilmu fisika, sebagai mekanika molekul-molekul, dan dari ilmu kimia, sebagai ilmu fisika atom-atom.
Di dalam ilmu mekanika, tidak terjadi kualitas-kualitas; paling-paling keadaan-keadaan seperti keseimbanghan (ekuilibrium), gerak, energi potensial, yang kesemuanya bergantung pada perpindahan/peralihan (transference) gerak yang dapat diukur dan sendirinya berkemampuan ekspresi (pernyataan) kuantitatif. Karenanya, sejauh perubahan kualitatif terjadi di sini, itu ditentukan oleh suatu perubahan kuantitatif yang bersesuaian.
Di dalam ilmu fisika, benda-benda diperlakukan sebagai yang secara kimiawi tidak dapat diubah atau tidak berbeda; kita berurusan dengan perubahan-perubahan keadaan-keadaan molekularnya dan dengan perubahan bentuk gerak, yang dalam semua kasus, sekurang-kurangnya pada satu dari kedua sisinya, membuat molekul itu beraksi. Di sini setiap perubahan adalah suatu transformasi kuantitas menjadi kualitas, suatu konsekuensi dari perubahan kuantitatif dari jumlah suatu atau lain bentuk gerak yang dikandung di dalam benda itu atau yang dikomunikasikan padanya.
"Demikianlah temperatur (suhu) air adalah, pertama-tama, sesuatu yang tidak ada artinya dalam hubungan likuiditasnya; betapapun dengan peningkatan atau pengurangan suhu air cair, tercapailah suatu titik di mana keadaan kohesi ini berubah dan air itu diubah menjadi uap atau es." (Hegel, Enzyklopädie, Gesamtausgabe, Bd.VI, Hal.217.)
Demikian pula, suatu kekuatan arus minimum tertentu dipersyaratkan agar kawat platinum dari sebuah lampu pijar listrik menyala; dan setiap metal memiliki suhu pijar dan padunya, setiap cairan mempunyai titik beku dan didihnya yang tertentu pada suatu tekanan tertentu --sejauh alat kita memungkinkan kita mereproduksi suhu yang diperlukan; akhirnya, setiap gas juga mempunyai titik kritikalnya, di mana ia dapat dicairkan lewat tekanan dan pendinginan. Singkatnya, yang disebut konstan-konstan fisikal untuk sebagaian besar tidak lain dan tidak bukan adalah penandaan-penandaan (designations) titik-titik nodal di mana perubahan kuantitatif (berupa) pertambahan atau pengurangan gerak menghasilkan perubahan kualitatif dalam keadaan benda bersangkutan, di mana, karenanya, kuantitas diubah menjadi kualitas.
Namun, bidang di mana hukum alam yang ditemukan oleh Hegel itu merayakan kejayaannya yang paling penting yalah bidang ilmu kimia. Ilmu kimia dapat diistilahkan ilmu mengenai perubahan-perubahan kualitatif dari benda-benda sebagai hasil komposisi kuantitatif yang berubah. Hal itu sudah diketahui oleh Hegel sendiri. (Logik, Gesamtausgabe, III, hal. 433.) Seperti dalam hal oksigen: jika tiga atom bersatu ke dalam sebuah molekul, gantinya yang lazimnya dua buah, kita mendapatkan ozone, suatu benda yang amat sangat berbeda dari oksigen biasa dalam bau dan reaksi- reaksinya. Dan memang, berbagai proporsi yang di dalamnya oksigen berpadu dengan nitrogen atau sulfur, yang masing-masing menghasilkan suatu substansi yang secara kualitatif berbeda dari setiap lainnya! Betapa berbeda gas ketawa (nitrogen monokside N2O2) dari nitrik anhydride (nitrogen pentoxide, N2O5)! Yang pertama adalah suatu gas, yang kedua pada suhu-suhu normal adalah suatu substansi kristalin padat. Namun begitu, seluruh perbedaan dalam komposisi yalah bahwa yang kedua itu mengandung oksigen yang lima kali lipat lebih banyak daripada yang pertama, dan di antara keduanya itu terdapat tiga okside nitrogen lebih banyak (NO, N2O3, NO2), yang masing-masingnya secara kualitatif berbeda dari dua yang pertama dan satu sama lainnya.
Hal ini tampak lebih menyolok lagi dalam deretan gabungan-gabungan karbon homolog, terutama dari hidrokarbon-hidrokarbon yang lebih sederhana. Dari parafin-parafin normal, yang terendah jalah methani, CH4; di sini keempat kaitan atom karbon dijenuhi oleh empat atom hidrogen. Yang kedua, ethane, C2H6, mempunyai dua atom karbon yang tergabung dan keenam kaitan bebas itu dijenuhi dengan enam atom hidrogen. Dan begitulah seterusnya, dengan C3H8, C4H10, dan seterusnya, sesuai rumusan aljabar CnH2n+2, sehingga dengan setiap penambahan CH2 terbentuk sebuah benda yang secara kualitatif berbeda dari sebuah yang terdahulu. Tiga anggota paling rendah dari deretan itu adalah gas-gas, yang tertinggi yang dikenal, hexadecane, C16H34, adalah suatu benda padat dengan suatu titik didih 270°C. Tepat seperti itu pula yang berlaku bagi deretan alkohol-alkohol primer dengan formula CnH2n+2O, yang diderivasi (secara teoretikal) dari parafin-parafin, dan deretan asam-asam lemak monobasik (formula CnH2nO2). Perbedaan kualitatif yang dapat ditimbulkan oleh penambahan kuantitatif C3H6, diajarkan oleh pengalaman jika kita minum Ethyl Alkohol, C2H6O, dalam bentuk cair (yang dapat diminum) tanpa penambahan alkohol-alkohol lainnya, dan pada suatu kesempatan lain minum ethyl alkohol yang sama itu, tetapi dengan menambahkan sedikit saja amyl alkohol, C5H12O, yang menjadi pembentuk utama dari minyak pelebur (fusel) yang mengerikan itu. Kepala seseorang pasti akan menyadari akan hal itu di pagi esok harinya, suatu siksaan yang sangat; sehingga seseorang bahkan dapat mengatakan bahwa kemabokan itu, dan perasaan "keesokan pagi" berikutnya itu, adalah juga kuantitas yang diubah menjadi kualitas, di satu pihak dari ethyl alkohol dan di lain pihak dari tambahan C3H6 ini.
Di dalam deretan ini kita menjumpai hukum Hegelian itu dalam bentuk yang lain lagi. Anggota-anggota yang lebih rendah hanya memperkenankan suatu saling-pengaturan tunggal dari atom-atom. Namun, jika jumlah atom-atom yang digabung menjadi sebuah molekul mencapai suatu ukuran yang secara tetap ditentukan bagi setiap deretan, maka pengelompokan atom-atom itu di dalam molekul dapat terjadi dalam lebih dari satu cara; sehingga dua atau lebih substansi isomerik dapat dibentuk, yang mempunyai jumlah-jumlah sama dari atom-atom C, H dan O di dalam molekul itu, tetapi bagaimanapun secara kualitatif berbeda satu sama lainnya. Kita bahkan dapat memperhitungkan berapa banyak isomer-isomer seperti itu dimungkinkan bagi setiap anggota dari deretan itu. Demikianlah, dalam deretan-deretan parafin, bagi C4H10 terdapat dua, bagi C5H12 terdapat tiga; di antara anggota-anggota lebih tinggi, jumlah isomer yang mungkin bertambah dengan sangat cepat. Karenanya, sekali lagi, adalah jumlah kuantitatif atom-atom itu di dalam molekul yang menentukan kemungkinan itu dan, sejauh yang telah dibuktikan, juga keberadaan sesungguhnya dari isomer-isomer yang secara kualitatif berbeda seperti itu.
Masih ada lagi. Dari analogi substansi-substansi yang kita kenal/ketahui dalam setiap dari deretan-deretan ini, kita dapat menarik kesimpulan-kesimpulan mengenai sifat-sifat fisikal dari anggota-anggota yang masih belum dikenal/diketahui dari deretan-deretan ini dan, sedikitnya bagi anggota-anggota yang segera menyusul anggota-anggota yang diketahui, memprediksikan sifat-sifatnya, titik didihnya, dan sebagainya, secara agak pasti.
Akhirnya, hukum Hegelian kesahihannya tidak hanya bagi substansi-substansi gabungan, melainkan juga bagi unsur-unsur kimiawi itu sendiri. Kini kita mengetahui bahwa
"sifat-sifat kimiawi unsur-unsur adalah suatu fungsi periodikal dari bobot-bobot atomiknya" (Roscoe-Schorlemmer, Ausführliches Lehrbuch der Chemie, II, hal.823),
dan bahwa, karenanya, kualitas mereka ditentukan oleh kuantitas berat atomik mereka. Dan pengujian atas hal ini telah dilakukan dengan gemilang. Mendeleyev telah membuktikan bahwa berbagai celah terdapat/terjadi dalam deretan-deretan unsur-unsur bersangkutan yang diatur menurut berat-berat atomik yang menandakan bahwa di sini unsur-unsur baru masih harus ditemukan. Jauh sebelumnya telah diuraikannya sifat-sifat kimiawi umum dari salah-satu dari unsur-unsur yang belum diketahui ini, yang disebutnya eka-aluminium, karena itu menyusul sesudah aluminium di dalam deretan-deretan yang dimulai dengan yang tersebut belakangan, dan ia memprediksikan perkiraan berat khusus dan atomik maupun volume atomiknya. Beberapa tahun kemudian, Lecoq de Bois-baudran benar-benar menemukan unsur ini, dan prediksi-prediksi Mendeleyev cocok benar dengan hanya kelainan-kelainan sangat kecil. Eka-aluminium dinyatakan dalam gallium (ibid., hal. 828). Dengan cara penerapan--secara tidak sadar--hukum Hegel mengenai transformasi kuantitas menjadi kualitas, Mendeleyev mencapai suatu hasil ilmiah yang luar biasa, yang tidaklah berlebih- lebihan jika disamakan dengan hasil Leverrier dalam memperhitungkan orbit planet yang hingga saat itu belum dikenal, yaitu planet Neptune.
Di dalam ilmu biologi, seperti halnya dalam sejarah masyarakat manusia, hukum-hukum yang sama berlaku pula pada setiap langkah, namun kita lebih suka berurusan dengan contoh-contoh dari ilmu- ilmu pasti, karena di sini kuantitas-kuantitas dapat diukur dan dilacak secara cermat.
Barangkali orang terhormat yang sama yang hingga kini telah menolak transformasi kuantitas menjadi kualitas sebagai mistisisme dan transendentalisme yang tidak masuk akal, kini akan menyatakan bahwa itu benar-benar sesuatu yang sangat gamblang, tidak berarti, dan biasa-biasa saja, yang telah lama mereka gunakan, dan dengan begitu mereka tidak mendapatkan pelajaran apapun yang baru. Tetapi dengan--untuk pertama kalinya--telah dirumuskan suatu hukum perkembangan umum dari alam, masyarakat dan pikiran, dalam bentuknya yang kesahihannya bersifat universal, itu untuk selamanya akan merupakan suatu langkah yang bermakna historikal. Dan apabila tuan-tuan ini selama bertahun-tahun telah menyebabkan ditransformasikannya kuantitas dan kualitas hingga tercampur aduknya satu sama yang lainnya, tanpa mengetahui apa yang sedang mereka lakukan itu, maka mereka mesti menghibur diri mereka sendiri dengan Monsieur Joudain-nya Molière yang sepanjang hidupnya mengucapkan prosa tanpa sedikitpun mengerti yang dikatakannya.

Alih bahasa: Ira Iramanto

Pemerintahan Buruh dan Tani

Formula ini, yakni “pemerintahan buruh dan tani”, pertama kali muncul di dalam agitasi Bolshevik pada tahun 1917 dan diterima setelah Revolusi Oktober. Pada akhirnya, ini adalah sebutan populer bagi kediktaturan proletariat yang sudah terbentuk. Arti penting dari sebutan ini datang secara terutama dari kenyataan bahwa ia menggarisbawahi sebuah aliansi antara kaum proletar dan tani yang merupakan basis kekuatan Soviet.
Ketika para pemalsu sejarah dari Komintern mencoba menghidupkan kembali formula “kediktaturan demokratis kaum proletar dan tani” yang sudah terkubur oleh sejarah, mereka memberikan formula “pemerintahan buruh dan tani” sebuah karakter yang benar-benar berbeda, yang benar-benar bersifat “demokratis”, dalam kata lain sebuah karakter yang bersifat borjuis; ini bertolak belakang dengan kediktaturan proletariat. Kaum Bolshevik-Leninis secara tegas menolak slogan “pemerintahan buruh dan tani” versi demokrasi-borjuis. Kaum Bolshevik-Leninis selalu menekankan bahwa: bila partai kaum proletar menolak untuk melangkahi batas-batas demokrasi borjuis, maka aliansinya dengan kaum tani akan menjadi dukungan terhadap kaum kapitalis, seperti yang dilakukan oleh kaum Menshevik dan Sosial-Revolusioner pada tahun 1917, seperti halnya dengan Partai Komunis Tiongkok pada tahun 1925-27, dan seperti halnya dengan “Front Rakyat” di Spanyol, Prancis, dan negara-negara lainnya.
Dari bulan April sampai September 1917, kaum Bolshevik menuntut kaum Menshevik dan SR untuk pecah dari kaum borjuis liberal dan mengambil kekuasaan ke dalam tangan mereka sendiri. Di bawah ketentuan tersebut, Partai Bolshevik menjanjikan kepada Menshevik dan SR, yang merupakan perwakilan borjuis kecil dari kaum buruh dan tani, bahwa mereka akan memberikan bantuan revolusioner dalam melawan kaum borjuis. Pada saat yang sama, Partai Bolshevik secara tegas menolak masuk pemerintahan Menshevik dan SR dan menolak untuk bertanggungjawab secara politis atas pemerintahan tersebut. Bila Partai Menshevik dan SR memecahkan diri dari Partai Cadets (kaum liberal) dan imperialisme asing, maka “pemerintahan buruh dan tani” yang mereka bentuk akan segera mempercepat dan memfasilitasi pembentukan kediktaturan proletariat. Dan inilah sebenarnya mengapa kepemimpinan kaum demokrat borjuis kecil menolak dengan segala kekuatannya untuk membentuk pemerintahannya sendiri. Pengalaman Rusia menunjukkan, dan pengalamanan di Spanyol dan Prancis sekali lagi mengkonfirmasikan, bahwa bahkan di dalam kondisi yang sangat mendukung, partai-partai demokrasi borjuis kecil (SR, Sosial Demokrat, Stalinis, Anarkis) tidak mampu membentuk sebuah pemerintahan buruh dan tani, yakni sebuah pemerintahan yang independen dari kaum borjuis.
Walaupun begitu, tuntutan kaum Bolshevik yang ditujukan kepada Menshevik dan SR: “Pecah dari kaum borjuis, ambil kekuasaan ke dalam tanganmu sendiri!” mempunyai nilai pendidikan yang besar bagi rakyat. Ketidakinginan untuk mengambil kekuasaan, yang terekspos secara dramatis selama Hari-Hari Juli [12], membuat reputasi Menshevik dan SR hancur di mata rakyat dan mempersiapkan kemenangan Bolshevik.
Tugas utama dari Internasional Keempat adalah membebaskan kaum proletar dari kepemimpinan mereka yang lama, yang sifat konservatifnya tidak sejalan dengan ledakan-ledakan bencana kapitalisme yang sedang hancur dan merupakan halangan utama arus sejarah. Kritik utama yang dikedepankan oleh Internasional Keempat terhadap organisasi-organisasi tradisional kaum proletar adalah kenyataan bahwa mereka tidak ingin pecah dari politik kaum borjuis yang sudah setengah-mati. Di dalam situasi ini, tuntutan yang secara sistematis ditujukan kepada kepemimpinan lama ini adalah: “Pecah dari kaum borjuis, rebut kekuasaan!”; tuntutan ini adalah senjata yang teramat penting untuk mengekspos karakter pengkhianat dari partai-partai dan organisasi-organisasi Internasional Kedua, Ketiga dan Internasional Amsterdam [13]. Maka dari itu, slogan “pemerintahan buruh dan tani” dapat kami terima hanya di dalam kondisi seperti pada tahun 1917 dengan Partai Bolshevik, yakni sebagai slogan anti-borjuis dan anti-kapitalis. Tetapi bukan dengan karakter “demokratis” yang kemudian diberikan oleh para pemalsu sejarah tersebut, yang mengubah slogan tersebut dari jembatan menuju revolusi Sosialis menjadi penghalang utama revolusi Sosialis.
Dari semua partai dan organisasi yang mendasarkan diri mereka pada kaum buruh dan tani dan mewakili mereka, kami menuntut mereka untuk pecah secara politik dari kaum borjuis dan memasuki jalan perjuangan untuk membentuk pemerintahan buruh dan tani. Di dalam perjuangan ini, kami menjanjikan mereka dukungan penuh dalam melawan reaksi kapitalis. Pada saat yang sama, tanpa mengenal lelah kami akan mengembangkan agitasi seputar tuntutan-tuntutan transisional, yang menurut kami harus membentuk program-program dari “pemerintahan buruh dan tani” tersebut.
Apakah pembentukan pemerintahan buruh dan tani oleh organisasi-organisasi tradisional para buruh adalah satu hal yang mungkin? Seperti yang sudah kami paparkan sebelumnya, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa ini kemungkinannya kecil sekali. Akan tetapi, kita tidak bisa secara pasti menyangkal kemungkinan teoretikal bahwa di bawah pengaruh kondisi-kondisi yang benar-benar unik (peperangan, kekalahan perang, krisis ekonomi, tekanan massa revolusioner, dsb), partai-partai borjuis kecil, termasuk partai-partai Stalinis, bisa bertindak lebih jauh dari apa yang mereka inginkan dalam memecahkan diri dengan kaum borjuis. Dalam segala hal, satu hal yang tidak boleh diragukan: bahkan jika hal yang sangat kecil kemungkinannya ini menjadi realitas dan “pemerintahan buruh dan tani” terbentuk, pemerintahan tersebut hanya akan menjadi sebuah episode pendek dalam perjalanan menuju kediktaturan proletariat yang sesungguhnya.
Akan tetapi, kita tidak perlu bermain tebak-tebakan. Agitasi seputar slogan pemerintahan buruh dan tani dalam segala situasi memiliki sebuah nilai pendidikan yang sangat besar. Dan ini bukanlah suatu kebetulan. Slogan umum ini sejalan dengan perkembangan politik masa sekarang ini (kebangkrutan dan kehancuran partai-partai borjuis yang lama, jatuhnya demokrasi, tumbuhnya fasisme, dorongan yang semakin cepat dari kaum buruh menuju politik yang lebih aktif dan agresif). Oleh karena itu, setiap tuntutan transisional harus menuju ke satu kesimpulan yang sama: kaum buruh harus memisahkan diri dari partai-partai tradisional kaum borjuis guna membangun kekuatan mereka sendiri, bersama-sama dengan petani.
Adalah suatu hal yang mustahil untuk bisa meramalkan apa yang akan menjadi tahap-tahap konkrit dari mobilisasi massa revolusioner. Setiap kali memasuki tahapan yang baru, seksi-seksi Internasional Keempat harus secara kritis mengorientasikan diri mereka dan mengedepankan slogan-slogan yang akan membantu buruh yang sedang berjuang untuk meraih politik yang independen, memperkuat hubungan kaum pelopor dengan rakyat, dan mempersiapkan penaklukkan kekuasaan revolusioner.
Sumber:  http://www.marxists.org/indonesia

Aliansi Kaum Buruh dan Tani

Kaum pekerja pertanian adalah saudara perjuangan dan rekan kaum pekerja di pedesaan. Mereka adalah dua bagian dari satu kesatuan kelas yang sama. Kepentingan mereka tidak dapat dipisahkan. Tuntutan transisional kaum pekerja industrial, dengan sedikit perubahan disana dan disini, adalah juga program transisional kaum proletar pertanian.
Kaum tani merepresentasikan kelas yang berbeda: mereka adalah kaum borjuis kecil pedesaan. Kaum borjuis kecil terdiri dari lapisan yang berbeda-beda, dari lapisan semi-proletar sampai ke elemen-elemen yang mengeksploitasi. Berdasarkan pengamatan ini, tugas politik dari kaum proletar industrial adalah untuk membawa perjuangan kelas ke pedesaan. Hanya dengan demikian ia akan mampu menarik garis pemisah antara sekutunya dan musuhnya.
Keunikan dari perkembangan di tiap-tiap negara mengekspresikan dirinya secara unik di dalam status petani dan kaum borjuis kecil kota (pengrajin dan pemilik toko kelontong) yang ada di negara tersebut. Kelas-kelas ini, walaupun jumlahnya banyak, sebenarnya adalah perwakilan kelas dari sistem produksi pra-kapitalisme yang masih hidup. Seksi-seksi dari Internasional Keempat harus memformulasikan sebuah program tuntutan transisional yang menyangkut petani dan kaum borjuis kecil urban, yang bersifat konkrit dan sesuai dengan kondisi di tiap-tiap negara. Kaum pekerja yang termaju harus mempelajari bagaimana memberikan solusi yang jelas dan konkrit terhadap masalah-masalah yang disodorkan oleh kaum tani dan borjuis kecil yang kelak akan menjadi sekutunya.
Walaupun petani tetap akan menjadi produsen kecil yang “independen”, dia membutuhkan kredit murah, mesin-mesin pertanian dan pupuk dengan harga yang terjangkau, kondisi transportasi yang baik, dan kondisi pasar yang adil untuk hasil pertaniannya. Tetapi bank-bank, perusahaan-perusahaan kongsi, dan para pedagang merampok kaum tani dari segala sisi. Hanya kaum tani sendiri dengan bantuan kaum buruh dapat menghentikan perampokan ini. Komite-Komite yang dipilih oleh para petani kecil harus dibentuk secara nasional dan bersama-sama dengan komite-komite pekerja dan komite-komite pegawai bank mengambil alih kendali transportasi, kredit, dan operasi perdagangan yang berkaitan dengan pertanian.
Dengan memutarbalikkan fakta mengenai tuntutan-tuntutan buruh “yang berlebihan”, kaum borjuis besar dengan pandai mengubah isu harga barang menjadi pemisah yang memecah persatuan antara kaum buruh dan tani, dan antara kaum buruh dan kaum borjuis kecil perkotaan. Para petani, pengrajin, pedagang kecil, tidak dapat menuntut kenaikan gaji ketika harga-harga barang naik. Mereka tidak seperti kaum buruh industri, pegawai kantor dan pegawai negeri, yang bisa menuntut kenaikan gaji. Pergelutan negara dalam menghadapi harga-harga barang yang tinggi hanyalah sebuah muslihat untuk menipu rakyat. Tetapi, para petani, pengrajin, dan pedagang kecil, dalam kapasitasnya sebagai konsumen, dapat mengintervensi politik pengaturan-harga-barang bersama-sama dengan kaum pekerja. Menghadapi keluhan-keluhan kaum kapitalis akan ongkos produksi, ongkos transportasi dan perdagangan, para konsumen menjawab: “Tunjukkan pembukuan anda; kami menuntut kendali atas kontrol harga-harga barang.” Organ-organ untuk fungsi pengontrolan harga barang ini adalah komite-komite pengontrol harga barang, yang beranggotakan delegasi-delegasi dari pabrik-pabrik, serikat buruh, koperasi, organisasi-organisasi petani, “pedagang kecil” dari perkotaan, ibu rumah tangga, dsb. Dengan cara seperti ini, kaum pekerja dapat membuktikan kepada para petani bahwa alasan sesungguhnya mengapa harga-harga barang membumbung tinggi adalah bukan karena upah yang tinggi, tetapi karena laba besar kaum kapitalis dan ongkos dari anarki kapitalisme.
Program nasionalisasi tanah dan kolektivisasi pertanian tidak boleh dipaksakan kepada petani-petani kecil. Para petani akan tetap menjadi pemilik tanahnya selama dia masih percaya bahwa hal tersebut mungkin atau diperlukan. Untuk merehabilitisasi program sosialisme di mata petani, adalah perlu untuk mengekspos metode kolektivisasi Stalinis, yang bukan didikte oleh kepentingan para petani atau pekerja, tetapi oleh kepentingan kaum birokrat.
Penyitaan hak-milik kaum borjuis besar tidak berarti pemaksaan penyitaan properti para pengrajin dan pedagang kecil. Justru sebaliknya, pengendalian bank-bank dan perusahaan-perusahaan kongsi oleh kaum buruh – terlebih lagi, nasionalisasi mereka – dapat menciptakan kondisi yang jauh lebih baik bagi kaum borjuis kecil perkotaan untuk memperoleh kredit dan berdagang; jauh lebih baik dibandingkan di bawah dominasi monopoli yang tidak terkendali. Ketergantungan kepada kapital swasta akan digantikan oleh ketergantungan kepada negara, yang akan memberikan lebih banyak perhatian terhadap kebutuhan-kebutuhan sekutu-sekutunya bilamana rakyat pekerja mengendalikan negara tersebut di tangan mereka sendiri.
Partisipasi praktis dari para petani yang tertindas di dalam pengendalian berbagai macam aspek-aspek ekonomi akan memberikan mereka kesempatan untuk memutuskan untuk diri mereka sendiri: apakah akan menguntungkan bagi mereka untuk pindah ke sistem kolektivisasi pertanian – kapan dan dalam skala apa. Kaum buruh industri harus melihat diri mereka sebagai pihak yang berkewajiban untuk bekerja sama di dalam setiap kesempatan dengan para petani dalam perjalanan mereka menuju kolektivisasi; melalui serikat-serikat buruh, komite-komite pabrik, dan yang terutama, melalui pemerintahan buruh dan tani.
Aliansi yang dikedepankan oleh kaum proletar – bukan kepada "kelas menengah" secara umum tetapi kepada lapisan-lapisan borjuis kecil pedesaan dan perkotaan yang tereksploitasi, dalam melawan semua kaum penghisap termasuk mereka-mereka yang dari “kelas menengah” – harus berdasarkan persetujuan sukarela, bukan paksaan; dan aliansi ini harus dikonsolidasikan di dalam sebuah “kontrak” yang khusus. “Kontrak” ini adalah program tuntutan transisional yang diterima secara sukarela oleh kedua belah pihak.
Sumber:  http://www.marxists.org/indonesia

Upah Relatif dan Jam Kerja Relatif

Di bawah kondisi-kondisi kapitalisme yang sedang luluh lantak, rakyat tetap hidup dalam kehidupan yang serba kekurangan, dan sekarang lebih terancam bahaya terlempar ke dalam jurang kemiskinan. Mereka harus mempertahankan sesuap nasi mereka, bila mereka tidak dapat meningkatkan atau memperbaikinya. Tidak perlu dan tidak ada kesempatan untuk menyebutkan satu persatu tuntutan-tuntutan parsial dan terpisah tersebut, yang dari waktu ke waktu lahir dari kondisi-kondisi yang konkrit -- nasional, lokal, serikat buruh. Tetapi, dua masalah ekonomi yang utama, yang meringkas meningkatnya absurditas sistem kapitalisme, adalah pengganguran dan harga yang melambung. Masalah-masalah ini membutuhkan slogan-slogan dan metode-metode perjuangan yang umum.
Internasional Keempat menyatakan perang tanpa kompromi melawan politiknya kaum kapitalis, yang mirip dengan politiknya kaum reformis yang merupakan agen kapitalis. Yakni sebuah politik yang bertujuan untuk meletakkan ke punggung rakyat pekerja semua beban militerisme, krisis, kekacauan sistem finansial, dan keburukan-keburukan lainnya yang merupakan akibat dari kehancuran kapitalisme. Internasional Keempat menuntut lapangan kerja dan kondisi hidup layak untuk semua orang.
Slogan inflasi moneter dan stabilisasi moneter tidaklah boleh menjadi slogan kaum proletar karena kedua hal tersebut adalah sama saja. Untuk melawan melambungnya harga-harga barang, yang akan menjadi semakin parah dengan semakin dekatnya perang, kita hanya bisa berjuang di bawah slogan upah relatif. Ini berarti bahwa perjanjian kolektif harus menjamin kenaikan upah yang otomatis seiring dengan naiknya harga barang-barang konsumen.
Di bawah ancaman hancurnya kapitalisme, kaum proletar tidak boleh mengijinkan rakyat pekerja untuk menjadi kaum miskin pengangguran yang kronik, yang hidup di tempat-tempat kumuh di dalam masyarakat yang hancur. Hak untuk mendapat pekerjaan adalah satu-satunya hak penting yang tersisa bagi kaum pekerja di masyarakat yang berdasarkan eksploitasi. Hari ini hak tersebut adalah hak yang tersisa bagi kaum pekerja di masyarakat yang berdasarkan eksploitasi. Hak ini sekarang sedang direnggut dari kaum proletar dalam setiap langkahnya. Dalam melawan penggangguran, secara “struktural” maupun “akibat krisis”, waktu sudahlah matang untuk maju dengan slogan pekerjaan umum, dengan slogan jam kerja relatif. Serikat-serikat buruh dan organisasi-organisasi massa harus mengikat kaum pekerja dan kaum penganggur di dalam solidaritas untuk tanggungjawab bersama. Berdasarkan ini, semua pekerjaan akan dibagi di antara semua pekerja sesuai dengan bagaimana jam kerja mingguan ditentukan. Upah rata-rata setiap pekerja tetap sama seperti halnya di bawah jam kerja mingguan yang lama. Upah, berdasarkan upah minimum yang dijamin dengan ketat, akan mengikuti harga-harga barang. Dalam periode bencana sekarang ini, adalah tidak mungkin untuk menerima program yang lain.
Pemilik-pemilik properti dan pengacara-pengacara mereka akan membuktikan “tidak mungkin tercapainya” tuntutan-tuntutan ini. Kapitalis kecil, terutama kapitalis yang sudah hancur, akan merujuk pada pembukuan mereka. Kaum pekerja menolak mentah-mentah kesimpulan-kesimpulan dan informasi-informasi tersebut. Masalahnya bukanlah sebuah pertentangan “normal” antara dua kepentingan material yang berlawanan. Masalahnya adalah untuk menjaga kaum proletar dari kehancuran, demoralisasi, dan keruntuhan. Masalahnya adalah masalah hidup atau mati satu-satunya kelas yang kreatif dan progresif, dan karena kekreatifan dan keprogresifannya kelas tersebut adalah masa depan umat manusia. Bila kapitalisme tidak mampu memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut yang secara tidak terelakkan lahir dari bencana yang disebabkan oleh dirinya sendiri, maka biarlah kapitalisme hancur. Dalam kondisi sekarang ini, “kemungkinan dicapainya” atau “ketidakmungkinan dicapainya” tuntutan-tuntutan tersebut adalah sebuah masalah relasi kekuatan-kekuatan sosial, yang hanya bisa ditentukan dengan perjuangan. Dengan jalan perjuangan ini, apapun keberhasilan praktis dan segera dari perjuangan tersebut, rakyat pekerja akan mengerti dengan sangat baik bahwa perbudakan kapitalisme harus dilikuidasi.
Sumber:  http://www.marxists.org/indonesia

Syarat-Syarat Objektif untuk Sebuah Revolusi Sosialis

Situasi politik dunia dalam keseluruhannya digambarkan oleh sebuah krisis historis kepemimpinan proletariat.
Syarat ekonomi untuk revolusi proletar sudah secara umum mencapai tingkatan tertinggi yang mampu dicapai di bawah kapitalisme. Kekuatan-kekuatan produksi umat manusia tidak bertambah maju. Penemuan-penemuan dan perkembangan-perkembangan baru sudah tidak mampu meningkatkan kesejahteraan material. Krisis-krisis yang saling bertautan di bawah kondisi krisis sosial dari seluruh sistem kapitalis mengakibatkan kelaparan dan kesengsaraan yang semakin parah di dalam masyarakat. Tingkat pengangguran yang makin membengkak, pada gilirannya, memperdalam krisis finansial negara dan melemahkan sistem keuangan yang sudah tidak stabil. Rejim-rejim demokratik, dan juga rejim-rejim fasis, terhuyung-huyung dari satu kebangkrutan ke kebangkrutan yang lain.
Kaum borjuis sendiri melihat sudah tidak ada jalan keluar lagi. Di negeri-negeri dimana mereka telah terpaksa membuat pengorbanan terakhir dengan menggunakan fasisme, mereka sekarang meluncur dengan mata tertutup menuju bencana ekonomi dan militer. Di negeri-negeri yang lebih maju di dalam sejarah, yakni negeri-negeri dimana kaum borjuisnya masih mampu untuk sementara mengijinkan demokrasi dengan mengorbankan akumulasi-akumulasi nasional (Inggris, Prancis, Amerika, dll), semua partai-partai kapitalis tradisional berada di dalam kondisi kebingungan yang hampir lumpuh semangat.
Proyek “New Deal” [1], walaupun di dalam periode keteguhan awalnya yang palsu, merepresentasikan semacam kebingungan politik dan hanya mungkin diterapkan di sebuah negara di mana kaum borjuisnya telah berhasil mengumpulkan kekayaan yang tak terkira besarnya. Krisis sekarang ini yang masih jauh dari penyelesaiannya sudah berhasil menunjukkan bahwa politik “New Deal” ini, seperti halnya politik Front Popular [2] di Prancis, tidak mampu membuka jalan keluar dari kebuntuan ekonomi ini.
Hubungan-hubungan internasional tidak memberikan gambaran yang lebih baik. Di bawah tekanan disintegrasi kapitalisme yang semakin menguat, antagonisme-antagonisme imperialis menemui jalan buntu dimana perselisihan-perselisihan yang terpisah dan kekacauan-kekacauan lokal yang berdarah-darah (Etiopia, Spanyol, Asia Timur, Eropa Tengah) secara tidak terelakkan akan bergabung menjadi sebuah kekacauan dalam dimensi yang mendunia. Kaum borjuis tentu saja sadar akan bahaya sebuah perang yang baru terhadap dominasinya. Tetapi kelas tersebut semakin lemah dalam kemampuannya untuk menghindari perang dibandingkan pada awal tahun 1914.
Semua argumen bahwa kondisi sejarah belumlah “matang” untuk sosialisme adalah produk dari kebodohan atau penipuan yang dilakukan secara sadar. Syarat-syarat objektif untuk revolusi proletariat bukan hanya sudah “matang”, mereka sudah mulai membusuk. Tanpa sebuah revolusi sosialis di dalam periode sejarah selanjutnya, sebuah bencana akan mengancam seluruh peradaban umat manusia. Sekarang semua tergantung pada kelas proletariat, terutama kaum pelopor revolusioner kelas tersebut. Krisis sejarah umat manusia tereduksi ke krisis kepemimpinan revolusioner. 
Sumber:  http://www.marxists.org/indonesia